Rabu, 25 September 2013

Adab Seorang Anak Terhadap Orang Tua


Dalam kehidupan keluarga sering dijumpai seorang anak yang menentang orang tuanya sendiri, bahkan ada yang berani melawan orang tua dengan kekerasan sampai berujung pada pembunuhan, kejadian  ini sangatlah memilukan. Dimanakah akhlak seorang anak terhadap orang tuanya yang telah membesarkan, merawat, dan membiayai hidupnya sampai tumbuh dewasa?, padahal dalam Al-Qur’an Allah Swt. Berfirman.
   Artinya: “ Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)”. (Q.S. al- An am ;151)
Ayat di atas menegaskan kepada kita untuk berbuat baik terhadap orang tua dan melarang kita untuk membunuh jiwa yang yang diharamkan menurut syareaat. Orang tua muslim bertanggung jawab untuk memelihara lingkungan bersih begi anaknya guna memenuhi hak-hak anak dalam memperoleh suasana yang dapat menyelamatkan mereka dari api neraka, pelanggaran semacam ini adalah dosa.
Banyak kejadian orang tua yang membiasakan hal buruk pada anaknya, sehingga dikemudian hari menyebabkan putra-putranya terbiasa dengan perbuatan-perbuatan dosa itu. Contoh kasus yang kita temukan dalam masyarakat, misalnya:
1)   Orang tua membiarkan anak tidak mensucikan badan maupun tempat yang dikencinginya setelah anak kencing.
2)   Orang tua menyuruh anak berbohong kepada orang lain. Misalnya, seorang datang menagih hutang, lalu orang tua menyuruh menemui orang tersebutuntuk memberitahukan bahwa orang tuanya pergi beberapa beberapa hari belum pulang, padahal sebenarnya ketika itu orang tua ada didalam kamar atau dapur. Menyuruh anak berbohong semacam ini berarti telah menanamkan akhlak tercela pada anak.
3)   Orang tua sering minum minuman keras di depan anaknya.Hal semacam ini secara tidak langsung mendidik anaknya dengan perbuatan dosa, padahal anak harus dijauhkan dari pengaruh minuman haram.
Contoh akhlak dan adab buruk lainya, antara lain :
1)        Makan dengan tangan kiri
2)        Masuk rumah tanpa salam
3)        Makan tanpa membaca bismillah terlebih dahulu
4)        Membuang muka ketika bertemu orang lain
5)        Bermasam muka terhadap orang lain
6)        Menggunjing orang lain, dll.
Upaya orang tua dalam bertaubat dari perbuatan durhaka terhadap anaknya, antara lain :
Ø Menyuruh anaknya menghentikan hal-hal buruk yang terlanjur ditanamkanya dahulu
Ø Berusaha memperbaiki akhlak buruk anaknya dengan mengajak melakukan akhlak Islam
Ø Terus menerus mengajak anaknya untuk meninggalkan akhlak yang buruk, karena akhlak semacam itu akan menjrumuskanya kedalam siksa neraka.
Ø Meminta maaf terhadap anaknya karena telah menanamkan akhlak yang buruk.
Sebaliknya, anak yang mendapati orang tuanya telah bertaubat dari kesalahanya menanamkan akhlak yang buruk hendaklah berlapang dada menerima ajakan orang tuanya untuk meninggalkan akhlak yang burukdan memulai melaksanakan akhlak Islam. Begitu juga anak membuka pintu bagi orang tuanya untuk memberikan maaf atas kesalahan terhadap dirinya pada masa lalu sehingga mengakibatkanya berakhlak buruk.[1]
Anak juga harus memiliki prilaku yang baik terhadap kedua orang tuanya. Diantara adab anak terhadap orang tua adalah sebagai berikut.
1.        Mendoakan kedua orang tua dengan penuh keikhlasan, agar diampuni segala dosa-dosanya, diberi kemudahan dalam urusan risqi, dimudahjan dalam segala urusan dan sebagainya.
2.        Mencium tangan dan berpamitan mana kala hendak bepergian jauh.
3.        Berkata lemah lembut terhadap kedua orang tua, tidak membentak serta mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati orang tua, seperti cis, hus, dll.
4.        Mematuhi segala perintah orang tua yang tidak bertentangan dengan syareat ajaran agama Islam.
5.        Menjaga nama baik orang tua dengan tidak mengatakan kejelekan-kejelekan orang tua di depan orang lain.
6.        Memberikan kasih sayang kepada orang tua dengan tulus sebagaimana orang tua mengasihi kita dikala masih kecil.
7.        Merawat dan menjaga orang tua, terlebih apabila sudah memasuki usia renta.
8.        Selalu bersikap jujur dalam berbicara kepada orang tua
9.        Tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua menjadi malu dan marah karena perbuatan itu tidak terpuji.
10.    Membantu mencukupi kebutuhan hidup orang tua manakala anak sudah memisahkan diri dengan orang tua.
11.    Menjalin silaturahmi dengan orang tua apabila anak memiliki tempat tinggal yang jauh dari orang tua.
Allah swt. Memerintahkan kita agar berbuat baik terhadap kedua orang tua, hal ini terdapat dalam firmanya sebagai berikut.
Artinya :” dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”. (QS. Al- Isro : 23) .Mengucapkan kata Ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.
Ayat di atas memerintahkan kepada kita agar berbuat baik terhadap kedua orang tua, kita dianjurkan untuk merawat mereka manakala orang tua kita sudah lanjut usia. Allah melarang kita membentak orang tua kita dengan perkataan “ah” atau kata-kata yang lain sejenisnya yang bisa menyakiti hati orang tua. Sebaliknya kita diperintahkan untuk berkata yang baik kepada kedua orang tua kita dengan nada yang halus dan lemah lembut.
Dalam ayat yang lain Allah swt. Berfirman.
Artinya: “ dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". lalu Dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka".
Dari ayat di atas bisa kita simpulkan bahwa kita dilarang mendurhakai kedua orang tua kita karena “ Ridldo Allah terdapat pada ridlo kedua orang tua kita dan murka Allah terdapat pada murka orang tua kita ”, untuk itu sikap kita harus berhati-hati jangan sampai menimbulkan kemurkaan terhadap orang tua kita. Marilah kita ciptakan kehidupan dalam keluarga yang harmonis, penuh dengan nuansa ibadah dan prilaku yang berakhlakul karimah.
Dalam mendidik akhlak anak haruslah dengan penuh kesabaran dan penuh kehati-hatian, jangan sampai kita keliru dalam mendidik akhlak anak. Ketika nabi Ibrohim masih kecil, berdialog kepada ayangnya tentang Tuhan. Dan kesimpulanya bahwa Tuhan telah memberi petunjuk kepada manusia bahwa memperTuhan benda adalah sangat keliru.
Dengan demikian, dunia anak sangat penting diperhatikan. Apabila keliru dalam mendidik akhlak anak, bisa jadi dunia anak tidak akan mengenal akhlak yang lebih lanjut anak dapat melakukan perbuatan yang abnormal kriminalitas dan lain sebagainya. Contoh dalam pendidikan akhlak, apabila anak-anak sekolah berdusta di dalam segala apa yang mereka bicarakan, didukung para gurunya juga berdusta dalam mengajar dan segala pembicaraanya, maka masyarakat(anak-anak) tidak dapat berujud. Dan apabila dunia anak terancam demikian, masyarakat yang akan datang tidak dapat berujud karena adanya tiap-tiap yang dibicarakan menjurus dusta. Dan yang membekas dan berujud pada masyarakat yang rusak dan rendah martabatnya.
Maka model mendidik akhlak anak, tidak langsung berkata itu baik, atau itu buruk, apabila seorang anak baru saja belajar membaca, menurut kita itu jelek/ buruk namun kita tidak seharusnya berkata demikian. Sebab dapat menyakiti hati dan patah semangat. Tetapi kita beri semangat dan dorongan yang dapat dapat memacu dan bergiatnya si anak.
Selain dari pada itu, kisah Luqman yang diberi hikmah oleh Allah. Hal ini dijelaskan di dalam surat Luqman : 12 :
Artinya: “dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Kelanjutan kisah Luqman yang termuat dalam ayat di atas, bahwa beliau menasehati dan member pesan kepada generasi selanjutnya (anak-anak) untuk mewarisi nilai-nialai akhlak sebagai berikut :
a)        Dilarang berbuat syirik (menyekutukan ) Allah (Luqman : 13)
b)        Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua (Luqman :14)
c)        Keharusan tetap berbakti kepda kedua orang di dunia saja, karena kesyirikan mereka (Luqman : 15)
d)       Perintah menegakan solat, amar ma’ruf, nahi mungkar dan sabar (Luqman 17)
e)        Tidak boleh bersifat sombong, angkuh dan membanggakan diri sendiri ( Luqman : 18)
f)         Perintah bersikap sopan santun dalam berjalan atau berbicara (Luqman : 19)
Di dalam kitab “Durratun Nasihin” dijelaskan bahwa ada 10 (sepuluh) hak yang harus ditunaikan akan kepada kedua orang tuanya :
a.         Memberikan makan apabila dibutuhkan
b.        Memberi pengabdian apabila diperlukan
c.         Mendatangi apabila dipanggil
d.        Menaati apabila diperintah selain maksiat
e.         Berbicara dengan lemah lembut dan tidak kasar
f.         Memberikan pakaian bila diperlukan, sedang ia mampu
g.        Berjalan dibelakangnya
h.                                                                  Mengusahakan kerelaanya, dengan suatu yang dia sendiri rela
i.                                                                    Menjauhkan daripadanya sesuatu yang dia sendiripun menjauhiya
j.                                                      Berdoa untuknya dengan memohonn ampunan setiap ia mendoa untuk dirinya sendiri.[2]
Demikianlah beberapa hal tentang kewajiban seorang anak terhadap kedua orang tuanya. Jadilah anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka.
Banyak cerita maupun dongeng tentang anak durhaka yang berani terhadap kedua orang tuanya. Namun tidak pernah ada cerita tentang anak durhaka tersebut mendapat kehidupan yang mulia dan bahagia. Hidupnya akan sengsara, penuh derita baik di dunia maupun kelak di akhirat. Orang bilang “Ala-ala wong tuwo melati”keadaan fisik orang tua memang sudah renta dimakan usia, rupanya jelek, namun ucapanya memiliki tuah yang mustajab bagi anaknya.[3]
Sebaliknya banyak juga kisah tentang anak sholeh yang pada akhirnya mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat karena ketaatan dan kasih sayangnya kepada kedua orang tuanya.
Diceritakan bahwa Nabi Musa As. Berkata demikian : “ Ya Tuhanku, tunjukanlah kepada saya teman saya di dalam sorga !” Firman Allah ta’aalaa : “ pergilah engkau musa, ke negeri ini, di pasar ini, maka disitulah ada seorang laki-laki penjual daging yang wajahnya seperti demikian, itulah temanmu di dalam surga.” Nabi Musa As., pun pergi ke took/warung yang telah ditunjukan kepadanya, dan berdiri di tempat itu sampai tenggelam mata hari.
Penjual daging itu mengambil sepotong daging dan melemparkan /memasukanya kedalam bakul dan ketika hendak pulang, Nabi Musa berkata kepadanya :” Apakah engkau mempunyai  tamu? Penjual daging itu menjawab “ya”. Maka Nabi Musa As., pergi bersamanya sehingga masuk di rumahnya. Penjual daging taddi berdiri dan masak gulai yang enak, lezat dari daging tersebut, kemudian ia mengeluarkan bakul yang di dalamnya ada seorang wanita tua Bangka lagi lemah sekali sehingga seperti anak burung merpati. Penjual daging itu mengeluarkan si wanita tua tadi sambil menjunjungnya, dan menaruhkan makanan dimulutnya sehingga kenyang. Kemudian penjual daging itu mencuci pakaianya dan menjemurnya sehingga kering serta memakaikanya kembali dibakul seperti semula. Wanita tua tersebut menggerak-gerakan dua bibirnya. Nabi Musa As., berkata :” Sungguh saya mengetahui dua bibirnya mengucapkan “, : “ Ya Allah, jadikanlah anakku ini teman bagi Musa di dalam surga. “
Kemudian penjual daging itu mengambil situa tadi dan menggantungkanya pada sebatang kayu. Nabi Musa As., bertanya : “ Apakah yang telah engkau perbuat ?” Kata penjual daging itu :” Ini adalah Ibuku yang sudah lemah lunglai, sehingga tidak mampu duduk.” Kata Musa As., : “ Engkau berbahagia, saya adalah Musa dan engkau adalah menjadi temanku di dalam surga ; semoga saja Allah memudahkan pertemuan kita di dalam surga dengan sebab kemuliaan asma Nya yang indah dan sebab kemuliaanya manusia yang paling utama (Nabi Muhammad saw.) [4]
Kisah tersebut bisa dijadikan sebagai Ibroh buat kita agar lebih memuliakan terhadap kedua orang tua kita apapun keadaanya. Ingatlah bahwa doa yang dipanjatkan orang tua kita akan di dengan dan dikabulkan oleh Allah swt., sebagaimana yang telah dikisahkan dalam cerita di atas.
Jika seorang anak mengerti akan tugas dan kewajibanya terhadap kedua orang tuanya, maka bisa dikatakan anak tersebut adalah  anak yang solih. Akan tetapi apabila sebagai seorang anak tidak mampu menjalankan kewajibanya terhadap kedua orang tuanya bahkan berbuat aniaya serta menyakiti hati mereka maka bisa dikatakan anak tersebut sebagai anak yang durhaka yang akan mendapatkan balasan dari Allah berupa adzab yang pedih (naudzubillahi min dzalik).
Dengan demikian diperlukan berbagai upaya untuk membentuk akhlak anak agar menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, tahu hak dan kewajibanya, memiliki kepribadian yang baik dan mampu menjadi hiasan dan dalam keluarga. Anak juga diharapkan bisa mengharumkan nama orang dengan berperilaku baik di dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat patuh dan taat menjalankan perintah agama.


[1] . Ridla Baiquni, Muhammad, “ Orang yang Bangkrut Dunia Akhirat”, Jombang, Lintas Media. Hlm. 151-152
[2] . Drs. H.A. Mustofa, 1999, “ Ahlak Tasawuf “, Bandung, CV Pustaka Setia. Hlm. 162-163
[3] . H.S, Koesman, 2008, “ Etika dan Moralitas Islami” Semarang, Pustaka Nuun, hlm. 46

[4] . Usman Alkhaibawi, “ Durratun Nasihin (Mutiara Mubaligh), Semarang, Al Munawar, hlm. 192

Jumat, 02 Agustus 2013

MOTTO GERAKAN PRAMUKA

Motto Gerakan Pramuka merupakan bagian terpadu proses pendidikan untuk mengingatkan setiap anggota  Gerakan Pramuka bahwa setiap megikuti kegiatan berarti mempersiapkan diri untuk mengamalkan kode kehormatan Pramuka.
Motto Gerakan Pramuka adalah  “ SATYAKU KUDARMAKAN DARMAKU KUBAKTIKAN “
Manfaat Motto Gerakan Pramuka terhadap Jiwa anggota Pramuka, antara lain :
1.   Menanamkam rasa percaya diri.
2.   Menambah semangat pengabdian pada masyarakat, bangsa dan negara.
3.   Siap mengamalkan Satya dan Darma Pramuka.
4.   Rasa bangga sebagai Pramuka.
5.   Memiliki Budaya Kerja yang dilandasi pengabdiannya.
Motto Gerakan Pramuka wajib dihayati dan selalu diingat bagi anggota Pramuka dalam merealisasikan pengamalan Satya dan Darma Pramuka dalam kehidupan sehari hari.
Untuk meningkatkan kebanggaan dan kekompakan dalam satuan Gerakan Pramuka (mis. Ambalan), disamping wajib menggunakan Motto Gerakan Pramuka juga diperbolehkan membuat motto Satuan di satuan masing-masing.

Kamis, 01 Agustus 2013

INDAHNYA AKHLAKUL KARIMAH

Puji syukur kehadirat Allah swt. yang telah melimpahkan hidayah dan inayah kepada kita semua. Sholawat salam semoga tercurah kepada Nabi Agung Muhammad saw. Sebagai suri tauladan untuk kita semuanya. Atas dasar keprihatinan dan kepedulian penulis terhadap semakin merosotnya akhlak bangsa, maka  melaui buku ini penulis curahkan segala daya dan upaya untuk mengkaji berbagai permasalahan mengenai akhlak.
Akhlak merupakan sesuatu yang sangat penting untuk kita mengerti, dalam pergaulan sehari-hari akhlak sangat berpengaruh terhadap tingkah laku manusia dalam kehidupan keluarga, masyarakat maupun suatu bangsa. Akhlak merupakan target dakwah para nabi dan Rasul, meluruskan perilaku manusia dari keterpurukan dan kebobrokan merupakan tugas para Nabi dan Rasul serta kita bersama yang hidup sesudahnya. Kehidupan manusia dari zaman kezaman selalu mengalami perubahan disinilah peran pendidikan akhlak sebagai penyelaras dan penyeimbang serta pengendali berbagai dampak dari perkembangan zaman.
Akhlak adalah tahap ketiga dalam beragama. Tahap pertama menyatakan keimanan dengan mengucapkan syahadat, tahap kedua melakukan ibadah seperti sholat, zakat, puasa termasuk membaca Al-Qur’an dan berdoa, dan tahap ke tiga sebagai buah dari keimanan dan ibadah adalah akhlak. [1]
Dalam keluarga akhlak sangat penting untuk dikaji dan dimengerti oleh anggota keluarga. Perilaku yang baik harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak demikian juga perilaku yang jelek (akhlak tercela) juga harus di antisipasi sedini mungkin jangan sampai menjadi kebiasaan anggota keluarga karena akhlak yang tercela merupakan penyebab hancurnya kehidupan manusia. Orang tua berperan penting dalam pendidikan akhlak anak dan seluruh anggota keluarga.
Dalam buku ini akan dikaji berbagai permasalah tentang akhlak, mulai dari pengertian akhlak, macam-macam akhlak, penerapan akhlak dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Peranan akhlak bagi generasi muda dan masyarakat dalam menghadapi dampak buruk era globalisasi dan berbagai solusi penting untuk menangani dan mengatasi berbagai perilau –perilaku menyimpang dan akhlak yang tercela dalam kehidupan kita. Dalam buku ini juga dilengkapi dengan kajian mengenai pandangan Al-Qur’an dan Hadits mengenai akhlak lengkap dengan penjelasanya.
Kehidupan akan terasa indah apabila kita menerapkan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Hidup akan terasa damai, nyaman, sejahtera dan dekat dengan rahmat dan hidayah Allah swt. Hal tersebut terbukti pada zaman Rasulullah saw., di Madinah. Masyarakat hidup rukun, saling menghargai, saling menolong, penduduknya ramah, sopan, jujur, syukur menerapkan nilai-nilai akhlakul karimah yang diajarkan oleh Rasulullah saw., patuh dan tunduk menjalankan ibadah kepada Allah swt.
Pada akhir kajian penulis sisipkan kata-kata bijak mengenai akhlak yang diambil dari beberapa hadits terpilih. Mudah-mudahan bisa memberikan manfaat buat kita semua. Penulis menyadari bahwa di dalam buku ini masih terdapat kekurangan di sana sini. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik konstruktif dari pembaca yang budiman.
Akhirnya dengan mengharap ridlo Allah swt. penulis berharap mudah-mudahan buku ini bisa bermanfaat. Amin.
Purwokerto, 1 Desember 2012

Ari Kuswanto, S.Pd.I.


[1] . Prof.Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetian, dkk, 2001, “ Pendidikan  Agama dan Ahlak  Bagi Anak dan Remaja”, Ciputat, PT. Logos Wacana Ilmu, hlm. 51

HAKEKAT ILMU DAN AMAL

Ilmu berasal dari kata  عَلّمَ-يَعْلَمُ-عِلْماًmerupakan salah satu sifat Allah swt.,  yang berarti mengetahuai, maksud dari ’ilmu’ atau ‘ilman’  secara luas adalah mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan amal perbuaan manusia. Pada kajian ini penulis membatasi hanya pada ‘Ilmu Agama’ (ulumuddin). Ilmu agama merupakan suatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia  di dunia, dengan ilmu agama manusia mampu mengenal Allah swt., dengan segala bentuk kewajiban yang harus kita laksanakan kepada-Nya.
Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak dalil atas keutamaan ilmu. Di antaranya, firman Allah swt.,
Artinya : “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Al- Mujadilah : 11)
Ayat di atas menerangkan kedudukan orang yang berilmu dan beramal. Orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah swt., maksudnya dengan ilmu manusia mampu memahami apa yang harus dikerjakan dan diperbuat, apabila ia melakukan segala sesuatu berdasarkan ilmu maka kemudahan-demi kemudahan akan ia dapati, pekerjaan yang sulit akan terasa mudah dan yang paling penting adalah dengan ilmu manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Disinilah Allah swt., akan mengangkat derajat seseorang, karena pada hakekatnya semua yang kita lakukan ada aturanya dan tidak bisa berbuat sekehendak sendiri walaupun menurut kita benar tetapi belum tentu benar menurut Allah swt. Ilmu merupakan jendela untuk membuka tabir kegelapan kehidupan umat manusia, dengan ilmu manusia memiliki derajat, dengan ilmu manusia berpotensi untuk menjadi makhluk yang mulia dihadapan Allah swt., dan makhluk Allah lainya.
Dalam ayat yang lain Allah swt., berfirman :
Artinya : “ (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS.Az- Zumar : 9)
Antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu tidak sama, perbedaanya terletak dimana? Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Ilmu menerangkan beberapa perbedaan orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu yaitu sebagai berikut :
1.    Orang bodoh bagaikan orang yang buta, sementara orang berilmu bagaikan orang yang bisa melihat dengan baik
2.    Orang yang berilmu adalah orang yang kuat dan tangguh, sementara orang bodoh adalah orang yang lemah
3.    Allah memuliakan orang yang berilmu, dan menghina serta merendahkan orang yang bodoh
4.    Ilmu adalah kehidupan dan cahaya, sementara kebodohan adalah kegelapan dan sumber kebinasaan
5.    Orang berilmu adalah salah satu sifat ahli surga, sementa kebodohan adalah salah satu sifat ahli neraka. (dikutip dari : Heru Widodo, LC.)
Demikian sangat jelas sekali perbedaan antara orang yang berilmu dengan orang yang bodoh. Kedudukanya pun sangat berbeda, yang satu mulia dan yang satunya lagi memiliki kedudukan yang rendah. Ilmu merupakan pancaran ‘nur’ Illahiyah yang dapat dikaji melalui Al-Qur'an dan Sunah,  pada keduanya terpancar berbagai petunjuk bagi umat manusia berupa pemahaman mengenai akidah, akhlak, fikih, Muamalah, syareat, kabar tentang akhirat, surga dan juga neraka.
Petunjuk yang diberikan oleh Allah swt., melalui ilmu pada hakekatnya merupakan sebuah ruang bagi manusia untuk berusaha dan berikhtiyar. Ilmu tidak datang begitu saja melainkan harus dicari dan dikaji dengan penuh kesungguhan. Oleh karena itu Rasulullah saw. Bersabda : “ mencari ilmu itu wajib hukumnya bagi umat Islam baik laki-laki maupun perempuan” (al- Hadits). Kewajiban ini tidak hanya ditujukan kepada pelajar tetapi seluruh umat manusia, laki-laki, perempuan, besar, kecil, tua, muda, kaya maupun miskin semua tidak luput dari perintah untuk menuntut ilmu.
Al-Ghazali menyatakan bahwa ilmu itu banyak macamnya, dan yang paling berjasa untuk menuntun  pada kebahagiaan akhirat adalah seperti ilmu syari’at, tafsir, ilmu hadits, membaca Al-Qur'an dan menghafalkan wiridan-wiridan dan yang telah tertulis dalam kitab ihya’.[1] Ilmu tersebut wajib dipelajari sebagai pembuka jalan untuk menemukan kebahagiaan di akhirat. Selain ilmu tersebut menurut al-Ghazali ada beberapa ilmu yang berbahaya untuk dipelajari, seperti mengamalkan sihir dan perdukunan. Mencelup tembaga kemudian mengubahnya menjadi perak imitasi lalu menjualnya.[2] Adapun mempelajari ilmu kedokteran merupakan sesuatu yang diperbolehkan, demikian juga ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia, seperti ilmu perindustrian, perdangangan, pertahanan, dan ilmu lainya yang membawa kebaikan bagi umat manusia.
Ilmu erat kaitanya dengan amal, amal merupakan perbuatan manusia yang bernilai ibadah di hadapan Allah swt., namun demikian ada juga amal perbuatan yang tidak bernilai ibadah bahkan menimbulkan dosa seperti mencuri, berjudi, korupsi dan lain sebagainya.
Segala amal perbuatan manusia di dunia akan dihisab oleh Allah swt., sebesar maupun sekecil apapun. Allah swt., berfirman :
Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al- Zalzalah ; 7-8)
Dalam Ayat yang lain Allah swt., berfirman
Artinya:” kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS.at – Tin: 6 )
Ayat di atas menerangkan tentang balasan bagi orang beramal soleh yaitu pahala yang tidak ada putus-putusnya walaupun orang tersebut sudah meninggal dunia. Sebagai contoh; orang yang menyedekahkan sebagian hartanya untuk membangun tempat ibadah maka pahalanya akan tetap mengalir selagi tempat ibadah tersebut masih difungsikan untuk beribadah kepada Allah swt.
Amal perbuatan manusia sangat bergantung pada niatnya, niat merupakan  penentu amal seseorang untuk itu sebelum melakukan sesuatu hendaknya kita luruskan niat karena Allah swt., bukan karena yang lainya. Dengan demikian jadilah orang yang berilmu dan beramal dengan mengharapkan keridloan Allah swt., agar bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Gudep MTs N Model Purwokerto


[1] . Imam Al-Ghazali, M. Alaika Salamulloh, “Beruntung Dunia Selamat Akhirat”, Yogyakarta, Mitra Pustaka, hlm. 211
[2] . Imam Al-Ghazali, M. Alaika Salamulloh, “Beruntung Dunia Selamat Akhirat”, Yogyakarta, Mitra Pustaka, hlm. 213